Sketsa Nirwana (Kisah liburan diakhir semester)

 Sketsa Nirwana 

(Kisah liburanku di akhir semester!) 

“Setiap Detik, Adalah Cerita.”


LDKS 

Hirup deru hembusan angin pagi yang dingin merayap hingga ke tulang, dalam balutan sisa kantuk yang enggan pergi. Langit timur perlahan berpendar jingga, seperti kanvas yang dilukis oleh jemari mentari. Lampu-lampu jalan memudar satu per satu, menyerahkan tahtanya pada sinar fajar yang malu-malu merekah. Meski tubuh masih berat terkungkung kantuk, langkahku tak henti meniti jalan. Hari itu, liburan semesterku dimulai, diawali oleh kisah yang sudah lama dinanti —Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS).  

Detik - detik menegangkan

LDKS adalah tantangan baru yang kutunggu-tunggu setelah melewati hari-hari panjang ujian. Tiga hari yang penuh cerita membentang di hadapanku, seperti lembaran kosong yang siap kuisi dengan warna. Hari pertama dimulai dengan rasa yang bercampur aduk. Semangatku menyala seperti nyala lilin dalam gelap, kecil namun teguh, sementara di sudut hatiku terselip gugup yang tak terelakkan. Hingga tiba-tiba, kejutan dari panitia hadir—prank yang menghantam seperti angin kencang di tengah malam. Jantungku berdegup seperti genderang perang, nyaris melompat keluar. Namun, tawa yang datang setelahnya mengubah segalanya, seperti embun yang menenangkan panas di pagi hari.  




Hari kedua adalah musim semi dalam perjalanan ini. Keakraban di antara kami mulai tumbuh, seperti bunga-bunga yang mekar di tengah taman. Bersama teman-teman kelompokku, aku larut dalam berbagai permainan yang telah disiapkan panitia. Gelak tawa kami adalah simfoni kebahagiaan, menggema di setiap sudut, seakan pohon-pohon di sekitar pun ikut bersorak. Ketika poin diumumkan, kelompok kami berdiri di puncak! Rasanya seperti menggenggam rembulan yang turun ke bumi, berkilauan dan penuh makna.  

Namun, hari terakhir menjadi senja yang meredup terlalu cepat. Tubuhku yang tak bisa akhirnya terbaring di kamar, sementara teman-temanku melanjutkan kegiatan hingga akhir. Aku hanya bisa mendengar suara riuh dari kejauhan, seperti nyanyian yang terdengar samar dari balik jendela tertutup. Ada sedikit rasa kecewa, tetapi lebih besar lagi rasa syukurku atas dua hari yang begitu bermakna.  

LDKS bukan sekadar kegiatan, melainkan perjalanan menemukan arti kebersamaan dan kerja sama. Setiap tawa adalah bintang, setiap tantangan adalah langkah menuju kedewasaan, dan setiap momen adalah kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan. Meski aku tak dapat menuntaskannya hingga akhir, pengalaman ini adalah bagian tak terlupakan dari liburan semester yang istimewa.  
 
Dua hari telah berlalu, dan kini semua kegiatan LDKS benar-benar telah usai. Setelah melewati rangkaian aktivitas yang penuh tantangan, tibalah saatnya aku menikmati kehidupan liburan dengan lebih santai. Yaitu,

Jogja, Dua Hari dalam Harmoni Keistimewaan.

Yogyakarta menjadi kota pertama yang kupilih untuk melepas penat. Sudah lama aku merencanakan perjalanan ini, dan akhirnya kesempatan itu datang. Kota ini, dengan pesona dan keramahan yang tak pernah pudar, selalu berhasil mengundang siapa pun untuk kembali. Seperti oasis di tengah gurun, Jogja menawarkan ketenangan yang membuat hati terasa damai.  




Perjalanan singkat selama dua hari ini terasa begitu istimewa. Aku memulainya dengan mengunjungi Candi Prambanan, sebuah mahakarya yang berdiri anggun di bawah langit biru. Bangunan ini bukan hanya sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga simbol kekuatan dan keindahan masa lalu. Setiap ukiran pada dindingnya seperti bercerita, menyampaikan pesan-pesan kuno yang masih hidup dalam kesunyian. Aku berjalan perlahan, menyentuh dinginnya batu yang kokoh, terpesona oleh detail yang begitu halus—seperti karya seni yang dipahat dengan cinta dan kesabaran.  


Di dekat Prambanan, aku menemukan museum-museum kecil yang menjadi gudang sejarah. Lorong-lorongnya penuh dengan benda-benda bersejarah yang menyimpan ribuan cerita. Seakan waktu berhenti, aku tenggelam dalam bayangan masa lalu yang tergambar dari setiap artefak. Namun, di tengah perjalanan ini, ada kejutan yang membuat hari itu semakin berkesan.  


Di sudut museum, aku menemukan sebuah ruangan kecil yang tersembunyi—bioskop sederhana yang nyaris tak terlihat. Ruangan itu begitu tenang, dingin, dan nyaman, dengan deretan kursi empuk yang lebih menyerupai ruang kelas. Saat itu, hanya ada aku dan temanku di sana. Rasanya seperti memiliki studio pribadi yang menyajikan pengalaman unik. Film dokumenter tentang Candi Prambanan mulai diputar, menyuguhkan cerita-cerita bersejarah yang mendalam. Dengan hanya lima ribu rupiah, aku mendapatkan pengalaman yang tak ternilai—sebuah perjalanan ke masa lampau yang terbungkus dalam keheningan dan pengetahuan.  


Ketika langit mulai berpendar jingga, kami meninggalkan Prambanan, menuju destinasi berikutnya yang tak kalah memikat: Malioboro. Jalan ini adalah denyut nadi Jogja, di mana keramaian menjadi harmoni yang menenangkan. Lampu-lampu jalan menyala lembut, memantulkan cahaya yang membuat setiap sudut terlihat memikat.
  
Daerah istimewa, Yogyakarta.

Malioboro menyambut kami dengan hiruk-pikuk yang khas, namun entah mengapa, kebisingannya terasa hangat. Aku menyusuri trotoar, menikmati malam yang penuh keajaiban di bawah sinar bulan. Kami berhenti untuk mengambil foto, mengabadikan momen yang kelak akan selalu kuingat dengan senyum. Setiap langkah terasa seperti menorehkan kenangan baru yang tak tergantikan.  

Ketika lelah mulai menjalari tubuh, pandanganku tertuju pada sebuah becak di sudut jalan. Tanpa ragu, aku menarik tangan temanku, lalu berkata, “Kita naik becak saja, ya?” Ia mengangguk sambil tersenyum. Kami pun menaiki becak itu, membiarkan kayuhan sang pengayuh membawa kami menyusuri jalanan yang ramai. Suara kayu yang berderit dan irama langkah perlahan menjadi alunan musik malam yang begitu khas. Angin lembut menyapa wajahku, membawa aroma khas Jogja yang tak akan pernah kulupakan.  

Jogja, kala itu.

Malam semakin larut, dan perjalanan ini akhirnya mencapai penghujungnya. Dua hari yang singkat terasa penuh dengan kehangatan dan keajaiban. Jogja, dengan segala keistimewaannya, berhasil menciptakan ruang dalam hatiku yang penuh rasa syukur.  
  
Selamat tinggal, Jogja. Aku akan kembali, dengan rasa yang lebih besar untuk menikmati segala keajaibanmu.
Time flies. . .
Liburan kini menyisakan satu minggu terakhir. Waktu berjalan begitu cepat, seakan angin berbisik untuk segera kembali ke realita. Hari-hari yang berlalu seperti pasir dalam genggaman, mengalir perlahan namun pasti. Aku memutuskan untuk memanfaatkan sisa waktu ini sebaik mungkin, menyegarkan kembali pikiran sebelum kembali pada rutinitas yang menanti.  


Keesokan harinya, setelah dua hari lalu menikmati keindahan Jogja, aku merencanakan perjalanan sederhana ke Blok M. Destinasi ini tak lagi asing bagiku, bahkan sudah seperti halaman belakang rumah. Sebagai salah satu tempat ikonik yang marak dikunjungi generasi muda, Blok M selalu menawarkan suasana yang dinamis dan penuh warna. Entah untuk berburu street food, mengikuti kajian, atau sekadar berbincang santai di kedai kopi, tempat ini selalu menyambutku dengan cerita baru.  

Aku berangkat pukul sebelas pagi dari Stasiun Harjamukti. Hari itu, aku tak ingin pulang terlalu larut, menyadari bahwa tempat ini pasti dipenuhi oleh para pengunjung yang juga ingin menikmati liburannya. MRT menjadi teman perjalanan yang setia, membawa kami melintasi jalur bawah tanah dengan lancar. Setiap stasiun yang dilewati seakan menceritakan kisah orang-orang yang datang dan pergi, masing-masing dengan tujuan yang berbeda. 

Harjamukti, our second homie >.<

Ketika tiba di Stasiun Dukuh Atas, aku segera melanjutkan perjalanan menuju Blok M. Pintu MRT terbuka, dan aku langsung disambut oleh lautan manusia. Rupanya, hari itu Blok M benar-benar dipenuhi oleh antusiasme para pengunjung. Rasanya, setiap sudut tempat ini diramaikan oleh tawa, percakapan, dan langkah kaki yang bergegas. Meski sedikit kecewa karena tempat-tempat favoritku begitu ramai, aku berusaha menikmati suasana riuh ini.  

Kami mengawali perjalanan dengan hal sederhana: mencicipi es krim dingin yang seolah menjadi oase di tengah keramaian. Setelah itu, kami mencoba fotobooth, sebuah cara kecil untuk mengabadikan momen bersama. Meski tak banyak yang bisa kulakukan hari itu, aku tetap menikmati waktu dengan santai, menjelajahi mall yang menjadi ikon kawasan ini.  

Langit mulai berubah sendu. Awan gelap menggantung rendah, membawa firasat hujan yang akan segera turun. Aku dan temanku bergegas menuju stasiun, seperti berlomba dengan waktu sebelum hujan menghempaskan dirinya. Tak lama setelah kami sampai, rintik hujan mulai jatuh, mengiringi perjalanan kami kembali.  

Ada sesuatu yang menenangkan dalam perjalanan pulang itu. Suara hujan yang mengetuk lembut jendela MRT, percikan air yang membasahi jalanan, dan udara sejuk yang menyusup melalui celah-celah atap stasiun menciptakan harmoni yang menenangkan hati. Rasanya seperti pelukan alam yang menutup hariku dengan damai.  

Meskipun perjalanan kali ini tak dipenuhi dengan aktivitas luar biasa, aku tetap bersyukur. Terkadang, momen sederhana justru menyimpan keindahan yang tak terduga. Blok M mungkin hanyalah satu bagian kecil dari kota besar ini, tetapi setiap kunjungan selalu membawa cerita baru yang melekat di hati.  

Perjalanan ini mengingatkanku bahwa keindahan tak selalu terletak pada hal-hal besar, melainkan dalam momen-momen kecil yang sederhana. Sisa waktu liburan yang singkat terasa cukup untuk mengisi kembali energiku, menyambut hari-hari yang akan datang dengan semangat baru.

 Melukis Kenangan di Kota Kelahiran 

Hari demi hari berlalu, hingga liburanku tinggal menyisakan empat hari. Rasanya waktu berjalan terlalu cepat, seperti aliran sungai yang tak bisa dihentikan. Di penghujung liburan ini, aku memutuskan untuk kembali ke kota kelahiranku, Garut. Bukan sekadar pulang, tapi mencari kehangatan yang hanya bisa ditemukan di tempat ini—tempat di mana jejak-jejak kecilku masih tertinggal.  

Rabu, 1 Januari 2025, pagi itu aku tiba di Garut. Angin dingin langsung menyapa, mengelus pipiku dengan lembutAroma tanah basah yang khas menyelinap, membawaku ke tumpukan memori masa lalu. Jalan-jalan yang pernah kulalui, pohon-pohon yang menjadi saksi tumbuh kembangku, semuanya terasa akrab, seperti pelukan ibu yang selalu kurindukan.  

Aku bertemu tiga teman kecilku yang sudah lama tidak kutemui. Wajah mereka masih sama, hanya waktu yang menambahkan sentuhan kedewasaan. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian penuh, merangkai ulang kenangan yang sempat terhenti.  


Dimulai dengan menikmati es krim di sebuah mall, kami bercengkrama, tertawa, dan berbagi cerita. Rasa manis dinginnya mencair perlahan di lidah, seperti kenangan masa kecil yang kembali menghangatkan hati. Percakapan kami pun mulai mengalir, bukan lagi tentang hal-hal sederhana yang biasa kami bicarakan dulu. Kini, obrolan kami memasuki babak baru—membahas kehidupan sekolah, rencana masa depan, dan mimpi-mimpi yang mulai menjulang.  

"Universitas mana yang ingin kamu masuki?" tanya salah satu dari kami dengan antusias.  
"Aku ingin kuliah di Bandung, lebih tepatnya di Jatinangor. Universitas Padjadjaran prodi ilmu komunikasi," jawabku sambil tersenyum. Ditimpali sahutan salah satu temanku yang sama begitu, kami berdua memiliki tujuan dan mimpi yang sama. Sama - sama ingin melanjutkan pendidikan di Unpad dengan jurusan Ilmu Komunikasi.
Percakapan ini penuh dengan canda tawa, tetapi juga diwarnai oleh harapan dan kekhawatiran yang tumbuh seiring dengan bertambahnya usia. Kami saling menyemangati, berbagi pandangan, dan berjanji untuk tetap saling mendukung meski jarak kelak memisahkan.  

Setelah berbincang lama, es krim kami pun habis, dan rasa lapar mulai menguasai. Perut yang berbunyi serempak seperti komando untuk mencari tempat makan. Kami memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat yang sedang booming, milik Wakil Bupati Garut, bernama Bumi Upi.  

Tempat itu menyajikan suasana yang begitu menawan, dengan nuansa seperti rumah nenek di pedesaan. Banyak pohon rindang yang berjajar di sekelilingnya, memberikan kesan alami dan damai. Aku merasa seperti masuk ke dunia Ghibli, dengan segala detail keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.  

Menu - menu lezat :D 


Kami memilih berbagai menu makanan yang semuanya menggugah selera. Rasanya sangat pas di lidah, seolah ada sentuhan cinta dari dapur yang menyajikannya. Makan siang kami diselingi obrolan ringan, tawa, dan nostalgia masa kecil. Namun, tujuan utama kami mendatangi Bumi Upi adalah untuk menikmati fotobooth-nya yang terkenal sangat lucu.  

Di sana, kami menghabiskan waktu hampir tiga jam, berpose di depan kamera dengan berbagai gaya, menciptakan kenangan baru yang akan selalu membekas di hati. Setiap klik kamera seakan membekukan waktu, menjadikannya kenangan yang tak akan pudar meski masa terus berlalu.  




Malamnya, kami duduk bersama menonton Miracle in Cell No. 7. Film itu meruntuhkan hati kami, menghadirkan air mata di sela tawa. Aku tak bisa menahan haru, merasakan betapa berartinya momen-momen ini. Rasa lelah yang sempat hinggap seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang sulit dilukiskan.  

—• Namun, seperti halnya setiap cerita, waktu tak pernah berkompromi. Langit Garut yang biru mulai berubah kelabu, pertanda waktu keberangkatan semakin dekat. Rasanya berat untuk meninggalkan tempat ini. Setiap sudut kota seakan memanggilku, memohon agar aku tinggal lebih lama. Tapi aku tahu, aku tak bisa.  
Saat langkah kakiku menjauh dari Garut, ada rasa hampa yang menggelayut di dada. Kota ini seperti sebuah mimpi yang enggan kuakhiri, tempat di mana kenyamanan dan kenangan bersatu dalam harmoni. 

Garut, bukan hanya kota kelahiranku. Kamu adalah rumah, pelukan, dan nafas kehangatan yang tak pernah pudar. Terima kasih untuk setiap memori yang kau berikan. Hingga kita bertemu lagi, aku akan selalu merindukanmu.


Liburanku telah mencapai ujung cerita. Setiap detik yang kulalui selama beberapa minggu ini terasa begitu istimewa, seperti potongan mozaik yang membentuk sebuah kenangan indah. Dari hiruk-pikuk Yogyakarta yang sarat akan sejarah, hingga pelukan hangat kota kelahiranku, Garut, semuanya memberikan makna yang tak ternilai.  

Liburan kali ini bukan sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi sebuah perjalanan jiwa yang mengajarkanku banyak hal—tentang menghargai momen kecil, tentang arti kebersamaan, dan tentang pentingnya meluangkan waktu untuk kembali ke akar.  

Setiap tempat yang ku kunjungi, setiap tawa yang ku bagi, dan setiap langkah yang ku tapaki terasa begitu berarti. Aku menyadari bahwa bukan kemegahan tempat atau banyaknya destinasi yang membuat liburan ini bermakna, melainkan kenangan dan perasaan hangat yang tertinggal di hati.  

Kini, waktu telah tiba untuk kembali ke realita. Meski berat rasanya meninggalkan semua cerita indah ini, aku tahu bahwa setiap akhir adalah awal dari kisah baru. Liburan ini menjadi pengingat bahwa hidup juga memerlukan jeda, ruang untuk merenung, dan waktu untuk menyegarkan diri sebelum kembali melangkah.  

Selamat tinggal, liburan bermakna. Kamu adalah bab yang akan selalu kuingat dalam buku kehidupanku. Terima kasih telah menghadirkan kebahagiaan dan memberikan ruang bagi jiwaku untuk bernapas lebih lega.  

Nanti, kita ceritakan lagi hari ini, ya. Hingga saat itu tiba, aku akan menjaga kenangan ini tetap hangat, seperti matahari pagi yang memeluk bumi dengan lembut. Terima kasih, dan sampai bertemu lagi di cerita berikutnya teman - teman.”
See u!

0 Comments:

Posting Komentar